BAB 3
ANALISIS PELUANG USAHA
3.1 Temuan Penelitian Kualitatif3.1.1 Rencana dan Metode Penelitian KualitatifMetode penelitian yang akan kelompok lakukan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini kelompok menggunakan metode kualitatif interaktif—studi yang mendalam menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari orang dalam lingkungan alamiahnya.
Karakteristik InformanKelompok membagi informan menjadi 4 kelompok dengan karakteristik sebagai berikut :
Tabel 3.1 Karakteristik Narasumber Penelitian Kualitatif

(Sumber : Olahan Sendiri)
Dari kriteria-kriteria tersebut, kelompok mencari informan untuk kelompok konsumen kelompok dengan menghubungi teman dan kenalan sanak keluarga kelompok. Untuk kelompok ahli bisnis sepatu, kelompok menghubungi salah satu dosen Universitas Prasetiya Mulya yang juga merupakan alumni dari Universitas Prasetiya Mulya dan berperan sebagai pemilik Have Had (bisnis sepatu kulit). Kelompok melakukan pencarian melalui internet untuk menemukan ahli dalam pengolahan arang bambu lalu kelompok memintanya untuk menjadi informan kelompok. Selain itu, kelompok memiliki kenalan pengrajin sepatu untuk vendor dan brand pesaing tidak langsung sebagai informan dari kompetitor. Nama-nama informan kelompok telah kelompok lampirkan.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Metode Penggalian InformasiDaftar pertanyaan yang diajukan kepada narasumber dikelompokkan sesuai dengan pedoman jurnal ilmiah yang kemudian diberikan tambahan pertanyaan yang merupakan kebutuhan kelompok. Setelah pertanyaan dibuat, pertanyaan disusun dan dikelompokkan dalam variabel yang sesuai dengan value kelompok. Pengelompokan ini dilakukan agar hasil informasi yang diberikan dapat dipilah secara sistematis dan lebih terstruktur.

Berikut adalah conceptual framework yang kelompok buat untuk memudahkan kelompok dalam membuat daftar pertanyaan :

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Metode Penelitian Kualitatif
(Sumber : Olahan Sendiri)
Gambar di atas merupakan basis untuk membuat daftar pertanyaan penelitian kuantitatif kelompok. Variabel diambil dari beberapa jurnal bersangkutan yang telah terlampir. Dari variabel tersebut kelompok mencoba membuat daftar pertanyaan untuk meneliti secara kualitatif sehingga kelompok dapat mengkonfirmasi kesesuaian value kelompok dengan kebutuhan pasar.

Jadwal Kegiatan Penelitian KualitatifBerikut adalah jadwal kegiatan penelitian kualitatif yang akan kelompok lakukan :
Tabel 3.2 Gantt Chart Penelitian Kualitatif
Oktober
Kegiatan 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
Wawancara dengan pelaku bisnis sepatu (Havehad)                              
Wawancara dengan ahli arang bambu                              
Wawancara dengan vendor sepatu                              
FGD dengan konsumen grup 18-22 tahun                              
FGD dengan konsumen grup 23-34 tahun                              
Observasi kompetitor & perilaku konsumen                              
Pengolahan data                              
Penyusunan laporan penilitian kualitatif                              
(Sumber : Olahan Sendiri)
Selain jadwal penelitian, kelompok juga sudah menentukan lokasi untuk melakukan penelitian tersebut sebagai berikut :
Depth Interview dengan Ahli Bisnis Sepatu berlokasi di Universitas Prasetiya Mulya
Depth Interview dengan Ahli Pengolah Arang Bambu di Bandung
Depth Interview dengan Pengrajin Sepatu di McDonald’s Alam Sutera
Focus Group Discussion dengan konsumen di Central Park Mall
Observasi kompetitor offline di Aeon Mall dan Summarecon Mall Serpong
Metode PenelitianMetode yang kelompok pilih meliputi metode wawancara, focused group discussion, dan juga observasi. Pendekatan yang berbeda-beda ini dilakukan agar data yang kelompok ambil menjadi lebih akurat sebab setiap narasumber memiliki karakterisitik yang berbeda-beda. Penggunaan metode ini juga bertujuan untuk menggali pandangan yang dapat memperkuat value proposition, mengembangkan produk, serta mencocokan nilai yang kelompok tawarkan dengan kebutuhan pasar (consumer needs). Dibawah ini akan dibahas metode-metode dalam penelitian kualitatif kelompok lebih dalam:
Wawancara Mendalam (Depth Interview)
Wawancara mendalam akan dilakukan dengan tiga narasumber berbeda (pelaku bisnis sepatu, ahli arang bambu, dan pengrajin sepatu) melalui tatap muka langsung. Dengan teknik ini diharapkan tingkat respon informan cukup tinggi walau dengan pertanyaan yang cukup panjang dan kompleks. Selain itu, kelompok juga mendapatkan informasi yang lebih terperinci.

Berikut adalah flowchart dalam metode wawancara mendalam yang dilakukan:

Gambar 3.2 Tahapan Proses Wawancara Mendalam
(Sumber : Olahan Sendiri)
Diskusi Terpusat (Focus Group Discussion)
21653544386500Berikut adalah flowchart metode focus group discussion yang akan dilakukan :
Gambar 3.3 Tahapan Proses Diskusi Terpusat
(Sumber : Olahan Sendiri)
Dalam melakukan metode ini, kelompok membagi 2 kelompok konsumen. Kelompok pertama adalah kelompok pada rentan usia 18-22 tahun, sedangkan kelompok kedua adalah kelompok pada usia 23-34 tahun. Pembagian ini dilakakukan karena terjadi tingkah laku yang berbeda dari kedua kelompok usia tersebut. 18-22 tahun lebih didekatkan dengan pendekatan seseorang yang masih melakukan pembelajaran studi strata satu sedangkan kelomopok 23-34 tahun dipenelitian pada tingkah laku yang lebih dekat dengan dunia kerja.

Berikut adalah peran dan fungsi dari anggota kelompok sebagai pemandu diskusi terpusat :
Moderator: Enrico Chendrawiguna
Notulen: Revienna Tjahyadi dan Livia Margarita
Time keeper: Jennica Wijaya
Observer: Anthony Wijaya
Rincian pelaksanaan focus group discussion akan dijelaskan sebagai berikut :
Tabel 3.3 Jadwal Pelaksanaan Diskusi Terpusat
Keterangan Waktu
10 Oktober 2017 15 Oktober 2017
1. Fasilitator berkumpul untuk membahas dan mempersiapkan semua keperluan Focus Group Discussion 17.30 11.30
2. Ketibaan informan 18.30 12.30
3. Pembukaan FGD
Sambutan dan perkenalan
Penjelasan ulang mengenai topik tujuan FGD
Peraturan dan prosedur berlangsungnya FGD 19.00- 19.10 13.00-13.10
4. Berlangsungnya FGD 19.10- 20.10 13.10- 14.10
5. Penutupan FGD
Kesimpulan
Ucapan terimakasih 20.10-20.20 14.10-14.20
(Sumber : Olahan Sendiri)
Observasi
Berikut adalah flowchart dari metode observasi :

Gambar 3.4 Tahapan Proses Observasi
(Sumber : Olahan Sendiri)
Tujuan kelompok menggunakan metode ini adalah menggali behavior konsumen, kompetitor, dan juga mendapatkan pandangan baru untuk menyusun strategi perusahaan yang berisfat teknis maupun strategis. Kelompok akan melakukan observasi dengan membuat variabel-variabel yang perlu diperhatikan dan menganalisa apa yang konsumen lakukan pada saat proses transaksi terjadi. Informasi yang kelompok ambil kemudian diolah menjadi informasi data tambahan dalam mengembangkan produk dan masukan bagi perusahaan beroperasi dengan baik.

Kelompok membagi objek observasi kelompok kedalam 2 kelompok yaitu penjualan melalui offline store dan juga melalui online store. Pembagian ini dilakukan karena adanya perbedaan tingkah laku konsumen dan cara promosi antara kedua channel penjualan ini. Adapun pemilihan toko-toko yang menjadi objek obeservasi adalah toko-toko yang sudah memiliki consumer base yang baik untuk memudahkan pengamat dalam menggali informasi yang lebih akurat dan tepat.
Semua lokasi observasi kelompok baik online maupun offline memiliki sasaran yang mirip dengan produk yang akan dikembangkan yaitu kelas menengah. Untuk offline store, kelompok memilih Bata, AEON Department Store, dan Centro Department Store untuk kelompok observasi secara langsung. Adanya kemiripan dari target pasar yang kelompok tuju dapat membantu kelompok mengembangkan produk dan core business kelompok dari apa yang mereka lakukan. Pemilihan departemen store juga masuk kedalam tempat yang kelompok observasi karena melambangkan berbagai brand yang memungkinkan kelompok dalam mengambil informasi yang lebih akurat dan netral.

Sedangkan untuk online store kelompok memilih Dane and Dine, Brygan, dan Footstep untuk diobservasi secara online. Kelompok lebih mengedepankan pengamatan implementasi standar operasional perusahaan dari toko online tersebut. Pengamatan dilakukan dengan observasi partisipatif kepada tiga toko tersebut. Informasi yang didapatkan kemudian dianalisa dan dibuat kesimpulan yang dapat menunjang pengembangan core business kelompok.

Metode AnalisisSetelah melakukan pengumpulan data, kelompok akan melakukan tahap analisis data. Ada beberapa jenis metode analisis dalam penelitian kualitatif, kelompok berencana menggunakan metode analisis interaktif model Miles dan Huberman serta dengan menggunakan kodefikasi sesuai dengan pedoman dari Dr. Mohamad Mahpur, Si.

3.1.2 Hasil Penelitian Kualitatif
Dari hasil penelitian kualitatif, kelompok mendapatkan data deskriptif mengenai informan kelompok sebagai berikut :
Tabel 3.4 Data Deskriptif Informan

(Sumber : Olahan Sendiri)
Dari pelaksanaan penelitian kualitatif yang telah dilakukan, kelompok mendapatkan data kualitatif yang akan dijabarkan sebagai berikut :
Hasil Wawancara Ahli Bisnis
Hasil yang kelompok dapat adalah dalam membuat bisnis penting bagi kelompok untuk menentukan value produk. Value tersebut harus sesuai dengan kebutuhan dan tren yang ada di target pasar kelompok. Dalam mengkomunikasikan value perlu diperhatikan seberapa kuat value produk kelompok yaitu odorless shoes diperlukan dalam pasar sasaran. Setelah menentukan value, maka harus dicocokkan kembali dengan target pasar kita apakah mereka benar-benar butuh dan harapan apa yang mereka inginkan dari sebuah produk sepatu.
Strategi pemasaran yang dibuat harus sesuai pasar sasarannya. Apabila melalui Instagram maka kita harus memperhatikan kontennya. Ada 2 hal yang harus diperhatikan yaitu kualitas konten dan intensitasnya. Kualitas konten bisa dari foto-foto yang di-posting dan intensitas dari seberapa sering posting foto di Instagram. Selain itu, kita juga harus memperhatikan engagement rate dari posting-an tersebut. Idealnya dalam satu foto, jumlah likers sebanyak 1% dari jumlah followers.
Dalam menentukan customer relationship maka kelompok harus menyesuaikan dengan target pasar kelompok. Misalnya, seperti HaveHad mereka menggunakan newsletter dari website mereka. Kelompok juga harus bisa masuk ke dalam pasar kelompok agar kelompok dapat mengerti strategi apa yang akan kelompok lakukan untuk membangun hubungan yang kuat dengan customer. Dari hubungan yang kuat tersebut maka akan muncul brand loyalty. Demikian juga dengan penentuan channel penjualan seperti E-commerce. Kelompok harus tahu mereka biasanya melakukan pembelian di E-Commerce yang seperti apa, apakah bisa melalui Lazada, Tokopedia, dan lainnya atau tidak.
Pada bagian ini, tantangan yang kelompok hadapi adalah mencari narasumber yang memiliki ahli bisnis sepatu, sedangkan hambatan kelompok tidaklah terlalu banyak. Hambatan terjadi saat wawancara adalah adanya penentuan jadwal untuk mewawancarai narasumber dikarenakan keterbatasan jadwal narasumber berada di kampus yaitu hari Selasa dan Rabu. Adanya keterbatasan informasi juga terjadi karena kelompok tidak menanyakan secara rinci mengenai hal-hal yang bersifat rahasia perusahaan seperti strategi pemasaran yang dilakukan. Dari hasil wawancara, variabel conceptual framework yang muncul adalah: brand loyalty, internet marketing, dan brand awareness.

Hasil Wawancara Pengrajin Sepatu
Kesimpulan dalam hasil wawancara dengan pengrajin sepatu adalah dalam membuat sepatu yang baik ada keterkaitan antara material/bahan sepatu yang digunakan, desain, serta performa sepatu dengan kepuasan konsumen. Ada beberapa hal yang mendukung fitur dan kinerja dari sepatu itu sendiri seperti bahan untuk upper sepatu, sol dan juga lem atau mesin yang digunakan. Penemuan lain yang didapatkan yaitu Material sepatu yang dipilih adalah material yang membuat kaki menjadi lebih sukar berkeringat dengan memilih bahan yang halus dan tidak menggunakan spons. Sedangkan variabel concecptual framework yang muncul adalah: features, performance, conformance, perceived quality, design, dan durability.

Hambatan-hambatan yang muncul dalam wawancara ini adalah terkait dengan sulitnya mengidentifikasi mendalam dari latar belakang dari pengrajin sepatu tersebut. Hal tersebut dikarenakan pengrajin yang enggan melakukan peletakan untuk jasanya pada media online dan beliau cenderung tidak suka mengumbar jasa membuat sepatunya. Hambatan lain yang muncul adalah pesan-pesan pertanyaan yang disampaikan tidak terjawab secara detil oleh narasumber. Untuk batasannya, kelompok hanya menanyakan tentang bahan, material, atau hal-hal mengenai proses pembuatan sepatu.
Hasil Wawancara Ahli Insol
Kesimpulan dari wawancara dengan ahli insol adalah kelompok mendapatkan bahwa insol berbahan arang bambu dapat dibuat. Dilihat dari sisi dampaknya, menurut narasumber insol terbuat dari tekstil yang sudah diproses dan diolah sehingga tidak berbahaya jika digunakan pada konsumen. Proses ini sudah disupervisi sendiri oleh perushaan pembuat tekstil. Arang bambu sendiri sebenarnya tidak memiliki waktu kadaluarsa, namun hal tersebut tergantung pada pemakaian penggunanya. Sedangkan variabel conceptual framework yang muncul adalah: conformance, performance, reliability, dan durability.

Hasil Focus Group Discussion
Pada pertanyaan pertama, kelompok mencoba untuk lebih menggali faktor apa saja yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan. Faktor yang memiliki pengaruh ke customer satisfaction adalah trust, quality, service, features, dan design. Menurut informan, ketika mereka puas akan suatu produk mereka cenderung akan membeli lagi produk tersebut
Selain itu, muncul juga faktor yang mempengaruhi intention to buy. Faktor-faktor tersebut adalah brand awareness, marketing, price, quality, design, dan satisfaction. Satisfaction pada toko online masih perlu ditingkatkan terutama dalam segi trust, beberapa dari responden mengatakan pernah mendapatkan ukuran sepatu yang tidak sesuai, selain itu para responden menilai bahwa brand awareness dan inovasi merupakan sesuatu yang sangat perlu ditingkatkan, terutama pada produk lokal agar dapat bersaing dengan produk luar.
Pertanyaan 2,3, dan 4 adalah pertanyaan gabungan mengenai faktor apa saja yang menjadi faktor seseorang melakukan pembelian atau intention to buy. Faktor-faktor tersebut adalah trust, design, durability, price, comfort, dan quality, sehingga jika digabungkan dengan faktor- faktor yang mempengaruhi intention to buy dari pertanyaan 1 adalah brand awareness, marketing, price, quality, design, satisfaction, trust, durability, dan comfort.

Pertanyaan ke 5 bertujuan untuk mengetahui preferensi merek yang dimiliki oleh konsumen, hal ini juga berguna untuk mengetahui siapakah kompetitor tidak langsung dari Miles. Beberapa merek sepatu dengan kisaran harga Rp 300.000,- hingga Rp 400.000,- yang responden sebutkan adalah: Converse, Specs, Pull and Bear, Airwalk, League, Bershka, Bata, Piero, dan Portblue. Umumnya mereka memilih merek tersebut karena model yang bagus, harga terjangkau, dan kualitas yang cukup baik.

Pertanyaan ke 6 dan ke-7 fokus pada permasalahan yang ada ketika konsumen menggunakan sepatu dalam jangka waktu yang lama dan bagaimana solusi untuk menyelesaikannya. Seluruh konsumen mengatakan pemakaian sepatu dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan panas yang berujung pada munculnya bau tidak sedap pada kaki, masalah lain yang muncul adalah masalah seperti lecet pada kaki dan pegal. Menurut para responden, solusi untuk masalah-masalah tersebut adalah dengan melengkapi sepatu dengan fitur khusus, mengganti bahan sepatu, mengubah desain sepatu agar tidak panas, dan mengubah desain sepatu agar sesuai dengan kontur kaki.

Kelompok juga menemukan bahwa faktor gaya hidup atau lifestyle tidak terlalu berpengaruh pada minat pembelian atau intention to buy. Ketika konsumen merasa puas dengan produk yang mereka beli, maka mereka cenderung akan membeli produk tersebut. Sedangkan lifestyle tidak terlalu berpengaruh karena responden mengatakan bahwa semua orang membutuhkan sepatu.

Hambatan dalam melakukan FGD adalah saat ingin mencari responden pada kelompok umur 24-34 tahun, pada akhirnya kelompok meminta konsumen yang sudah pernah beli sepatu kelompok untuk menjadi responden. Selain itu, kelompok berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat pertanyaan yang sifatnya leading, namun hal tersebut menjadikan pertanyaan kelompok sangat luas sehingga responden menjawab dengan tidak sistematis dan hal tersebut menyulitkan proses analisa.

Hasil FGD mengatakan bahwa kelompok umur 18-23 tahun masih cenderung memilih merek sepatu luar negeri dibandingkan dengan merek lokal. Alasan mereka masih kurang memandang merek sepatu lokal adalah masalah kepercayaan/trustworthiness, terutama terhadap merek-merek yang hanya menjual lewat online. Sementara itu, kebanyakan narasumber dari kelompok umur 24-34 tahun mengatakan bahwa mereka sudah mulai beralih membeli sepatu merek-merek lokal, walaupun faktor kepercayaan masih harus ditingkatkan. Hal ini juga berhubungan dengan konsistensi serta reputasi dari merek tersebut.

Hal unik yang lain adalah bagaimana kita menemukan bahwa kelompok umur 24-34 tahun lebih cenderung price sensitive. Hal ini dipicu oleh beberapa hal, diantaranya adalah faktor umur 24-34 tahun yang adalah first jobbers serta profesional yang mempunyai penghasilan sendiri sehingga lebih hati-hati ketika menggunakan uang, serta pandangan mereka bahwa yang sepatu tidak perlu terlalu mahal, yang penting adalah fungsinya.

Hasil Observasi
Setelah melakukan observasi pada 2 sektor yakni offline dan online, kelompok menemukan beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil observasi ini. Pada penelitian offline yang dilakukan kelompok menemukan bahwa mayoritas sepatu yang dijual memiliki model sneakers dan pantofel dengan harga jual yang cukup beragam dengan 200 hingga 400 ribu Rupiah. Mengacu pada penelitian observasi kelompok, ditemukan bahwa ketiga perusahaan menggunakan strategi yang sama dengan diskon untuk menarik pembeli.
Hal menarik lainnya adalah kelompok meneliti apa yang biasa dilakukan oleh konsumen sebagai langkah pertama ketika mereka akan membeli sepatu. Hasilnya mayoritas dari mereka memegang bahan, diikuti langkah kedua memencet bagian bawah sepatu. Setelah itu, mereka baru akan memutuskan untuk membeli sepatu.

Pada penelitian online kelompok meneliti 3 perusahaan sepatu yang berbasis online yakni Brygan Craftmanship, Footstep Footwear, dan Dane and Dine. Ketiganya bermain pada pasar yang sama yakni pada pasar kelas menengah dan berada pada kisaran harga 200-500 ribuan. Selain bermain pada pasar harga yang sama, ketiga perusahaan ini juga memiliki model sepatu yang berada pada lini cukup identik yaitu sneakers, boots, dan formal. Pada proses pemesanan sendiri, ketiganya sudah memiliki automation system yang dapat membeli sendiri melalui website, namun tetap melayani pembelian manual melalui [email protected] dan Whatsapp. Respon admin ketiganya cukup cepat dari segi pelayanan dan penjelasan mengenai produk.
Dari observasi kelompok menemukan beberapa aspek dasar, seperti pelayanan dapat mempengaruhi terjadinya transaksi penjualan, fitur dan desain produk harus selalu mengikuti tren dan zaman sehingga dapat terus bersaing di pasaran. Selain itu harga juga menjadi faktor yang sangatlah diperhatikan dalam menarik minat pembelian konsumen.

Dari hasil berbagai metode penelitian kualitatif tersebut, maka kelompok melakukan penyesuaian pada variabel-variabel yang ada di kerangka konseptual yang telah dibuat sebagai berikut :

Gambar 3.6 Kerangka Konseptual Hasil Penelitian Kualitatif
(Sumber : Olahan Sendiri)
Hasil wawancara kepada ahli bisnis menunjukkan bahwa adanya internet marketing strategy akan membuat brand awareness dan brand loyalty akan didapatkan dan berujung pada intensi konsumen dalam membeli sebuah barang. Sedangkan, ketika mewawancarai pengrajin sepatu dan ahli insol kelompok menggali lebih dalam informasi mengenai pembuatan suatu produk. Kelompok mendapati bahwa adanya desain, durability, performance, fitur, dan lainnya lebih mempengaruhi kepuasan konsumen. Ketika kelompok melakukan FGD dengan konsumen dan didapatkan bahwa desain, harga, durability, performance, fitur, dan lainnya mempengaruhi kepuasan dan pembelian mereka terhadap suatu produk. Selain itu, dalam kegiatan observasi kelompok mendapati bahwa dalam berbisnis secara offline maupun online kita harus memiliki servis yang baik terhadap konsumen agar mereka puas dan mau membeli produk kita.

3.1.3 Konsep Produk/Layanan51244515875Bahan kanvas, model sneakers
Presser foot technology
Sol yang polanya disesuaikan agar nyaman
00Bahan kanvas, model sneakers
Presser foot technology
Sol yang polanya disesuaikan agar nyaman

Gambar 3.7 Desain Produk
(Sumber : Olahan Sendiri)
Konsep desain sepatu yang akan ditawarkan adalah kasual dan bermodel sneakers bertali. Menurut hasil riset kualitatif yang telah dilakukan, tren model sepatu yang sedang digemari masyarakat adalah sepatu sneakers. Selain itu, setelah kelompok menggali insight dari target pasar, kelompok juga menemukan bahwa sebagian konsumen gemar untuk memakai sepatu tanpa kaos kaki, sedangkan penggunaan sepatu tanpa kaos kaki sangat mudah menyebabkan kaki mengeluarkan bau tidak sedap. Oleh sebab itu, kelompok merasa bahwa model produk yang kelompok tawarkan cocok dengan kebutuhan yang ada di pasar.

Bahan yang digunakan untuk body sepatu adalah kanvas. Kelompok memilih kanvas karena sebenarnya sepatu kasual berbahan kanvas karena merupakan bahan yang paling digemari pasar selain bahan kulit. Bahan kanvas yang akan digunakan adalah kanvas yang tebal namun halus. Bahan yang tebal digunakan karena biasanya berkualitas tinggi yang mempengaruhi ketahanan lama bahan, namun juga harus diseimbangkan dengan kehalusan kanvas itu sendiri agar mengurangi efek kaki yang mudah berkeringat.
Untuk bagian sol sepatu, bahan yang digunakan adalah karet. Sementara itu, bagian pinggang/tengah sol akan dipertebal dan diperkuat, sementara pola bagian depan akan diperlebar sedikit agar tidak terlalu sempit bagi jari kaki dan meningkatkan kenyamanan sepatu. Teknologi yang digunakan untuk sol sepatu adalah presser foot/strobel, dimana sol akan dijahit di bagian luar dan dalam untuk meningkatkan durabilitas sepatu dan menjawab permasalahan sol sepatu yang jika lama dipakai akan menganga. Fitur anti-bakteri sepatu Miles;co akan diwujudkan dalam insol sepatu yang terbuat dari arang bambu. Arang bambu terbukti mempunyai kemampuan menyerap bau dan memiliki sifat penyerapan yang tinggi untuk membunuh bakteri, dan anti-lembab, sehingga dapat menyerap keringat kaki untuk mengurangi bau kaki.
Mempertimbangan insol yang kelompok akan pakai, maka desain bentuk sepatu kelompok akan menyesuaikan pula dengan ketebalan/tinggi insol. Apabila insol terpisah dengan sepatu, maka secara otomatis ketebalan insol akan mengurangi ruang gerak kaki di antara insol dan badan sepatu. Oleh karena permasalahan yang akan timbul tersebut, maka desain badan sepatu kelompok akan menyesuaikan dengan dibuat dengan lebih tinggi sedikit daripada sepatu normal sehingga menciptakan ruang yang lebih nyaman untuk kaki dapat bergerak yang mengurangi rasa sakit pada kaki. Ruang yang terlalu sempit akan meningkatkan pula efek panas dan sumpek pada kaki yang akan berefek pada keringat di kaki. Hal ini pada akhirnya akan menimbulkan bau kaki yang tidak sedap.

Produk kelompok akan dikemas menggunakan boks sepatu yang mencantumkan merek Miles;co, baik ketika dijual secara online maupun offline. Kelompok juga menyediakan customer service berupa penukaran sepatu apabila ukuran sepatu mereka kurang pas. Beberapa persyaratan berlaku dalam penukaran, seperti maksimal waktu penukaran adalah seminggu sejak barang dikirim dan penukaran hanya bisa dengan model sepatu yang sama. Ongkir penukaran sepatu akan ditanggung oleh konsumen.

Kisaran harga yang akan kelompok tawarkan untuk produk ini adalah Rp 300-400 ribu. Harga tersebut masih dalam range harga willing to pay target pasar kelompok setelah mempertimbangkan fitur-fitur yang ditawarkan dalam sepatu. Dengan kisaran harga tersebut, kelompok berharap memberikan produk yang fair value kepada kebutuhan konsumen.

3.2 Temuan Penelitian Kuantitatif
3.2.1 Rencana dan Metode Penelitian Kuantitatif
Metode penelitian yang dilakukan pada bagian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Ada beberapa aspek fisik maupun non fisik produk yang akan diuji. Aspek fisik meliputi performance, aesthethic/desain, dan fitur. Sedangkan, aspek non fisik meliputi brand awareness, brand loyalty, conformance, customer satisfaction, durability, intention to buy, internet marketing strategy, perceived quality, price, reliability, trustworthiness, dan serviceability.
Dari aspek-aspek yang akan diuji, maka kelompok akan membuat kuesioner yang akan disebarkan kepada responden dan telah dilampirkan pada laporan ini. Kuesioner ini terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah pertanyaan mengenai informasi data diri responden dan preferensi membeli sepatu. Selain itu, kelompok juga meneliti kebiasaan mereka dalam membeli sepatu. Bagian ini juga berisi mengenai penelitian lebih lanjut mengenai hasil konsep produk yang didapatkan dari penelitian kualitatif.
Bagian kedua adalah pertanyaan bersifat close-ended yang merekam persepsi subyek terhadap setiap variabel pada model penelitian. Data dikumpulkan menggunakan 5-points Likert Scale, dimana 1 mengindikasi tidak setuju (TS); 2 mengindikasi kurang setuju (KS); 3 mengindikasi ragu-ragu (RR); 4 mengindikasi setuju (S); dan 5 mengindikasi sangat setuju (SS).
Target Responden Penelitian KuantitatifTarget responden kelompok adalah laki-laki dengan rentang usia 18-34 tahun. Mereka juga harus pernah membeli sepatu minimal sekali melalui online store. Persyaratan tersebut dipilih agar responden dianggap lebih bisa memberikan jawaban yang lebih valid dalam proses penelitian kelompok. Jumlah sampel yang akan diambil adalah diatas 300 sampel. Angka tersebut adalah angka jumlah responden yang valid dan telah disaring sesuai dengan kriteria yang sesuai dengan yang kelompok inginkan. Kelompok akan menyebarkan kuesioner baik secara offline maupun online. Untuk online, kelompok akan meminta bantuan kepada teman-teman kelompok untuk membantu menyebarkannya sedangkan untuk offline, kelompok akan meminta bantuan kepada orang-orang yang tidak dikenal di Mall yang memang sesuai dengan kriteria kelompok.

Jadwal Kegiatan Penelitian KuantitatifPada bagian ini kelompok sudah menentukan jadwal kegiatan penelitian kuantitatif baik secara online maupun offline sekitar 2 minggu dari tanggal 22 November 2017. Setelah itu, kelompok akan melakukan pengolahan data selama seminggu yang diperkirakan akan selesai pada pertengahan Desember 2017. Dalam melakukan kegiatan ini kelompok akan melakukan penyebaran kuesioner secara online melalui media sosial dan juga platform online (forum). Untuk offline, kelompok akan memilih beberapa mall seperti Teras Kota, Summarecon Mall Serpong, dan Aeon Mall.
Metode PenelitianMetode yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini adalah kuesioner sebagai teknik pengumpulan data. Teknik yang akan digunakan adalah non-probability sampling karena keterbatasan kelompok dalam waktu. Selain itu, kelompok juga menggunakan purposive sampling. Teknik ini digunakan kelompok untuk menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian.
Prasyarat yang dibuat kelompok adalah prasyarat jenis kelamin, geografis online, umur dan juga behavior. Sampel pada forum dan media sosial kemudian disaring pada rentan umur 18-34 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Kelompok juga meyakini bahwa dengan menetapkan area sampling pada forum dan juga media sosial dapat mendapatkan sampel yang dapat mewakili hasil yang valid karena salah satu penjualan tertinggi pada pasar e-commerce terletak pada media sosial dan juga forum online.Metode AnalisisPada penelitian ini kelompok menggunakan teknik analisis statistik deskriptif yang mana bertujuan untuk menunjukan dan menggambarkan penjabaran yang jelas. Secara kesimpulannya analisis deskriptif adalah analisis data dengan menggunakan statistik-statistik univariate, yaitu mean.

3.2.2 Hasil Penelitan KuantitatifTeknik pengumpulan data yang telah dilakukan adalah kuesioner. Kuesioner dibagikan secara offline dan online. Jumlah sampel yang didapatkan sebanyak 170 laki-laki secara offline dan 163 laki-laki secara online. Untuk kuesioner online, kelompok hanya mengambil hasil responden yang berjenis kelamin laki-laki dan membuang yang berjenis kelamin perempuan. Total responden yang didapatkan sebanyak 333 responden.

Analisa Deskriptif
Berdasarkan hasil analisa deskriptif yang telah dilakukan pada penelitian kuantitatif, didapatkan bahwa hampir semua responden pernah membeli sepatu secara online. Hal ini menunjukkan bahwa Miles;co harus menjual produk lewat online. Faktor yang diperhatikan dalam membeli sepatu secara online adalah harga, kualitas, dan review (testimonial) dibandingkan gambar (foto produk) dan kepercayaan terhadap suatu merek tertentu.
Selain itu, responden rata-rata memilih membeli sepatu di online shop dan toko di mall dibandingkan dengan Department store. Hal ini menjadi pertimbangan kelompok dalam melakukan penjualan produk. Informasi lainnya bahwa hampir semua responden memiliki masalah bau kaki dan mereka memilih sepatu anti-bau sebagai solusi masalah kelompok. Ketika kelompok bertanya mengenai ketertarikan mereka terhadap produk kelompok, hampir semua responden merespon tertarik sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep produk yang ditawarkan dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Dari data-data di atas, variabel dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya adalah “kenyamanan”, “persepsi kualitas”, dan “kesadaran harga-nilai”, sehingga variabel tersebut menjadi pedoman bagi penulis yang harus diperhatikan ketika ingin menawarkan sepatu kepada konsumen. Penemuan yang lain adalah strategi pemasaran serta kesadaran merek yang nilainya tidak terlalu tinggi sehingga dapat menjadi acuan dalam kegiatan promosi Miles;co untuk kedepannya.

Analisa Tabulasi Silang
Dalam pengolahan data kuantitatif kelompok juga melakukan analisa tabulasi silang dari beberapa variabel yang ada. Berikut adalah penjelasannya :
Usia dan model sepatu
Model sepatu sneakers paling banyak dipilih oleh responden yaitu total 250 orang. Responden kelompok usia 18-23 tahun dan 24-29 tahun kebanyakan memilih model sepatu sneakers.

Usia dan waktu penggunaan sepatu
Waktu penggunaan sepatu paling banyak adalah sekitar 4-7 jam yaitu sebanyak 166 orang. Responden yang berusia 18-23 tahun rata-rata waktu penggunaan sepatu sekitar 4-7 jam dan ada beberapa dari mereka yang menjawab 8-12 jam. Namun, untuk responden berusia 24-29 tahun rata-rata waktu penggunaan sepatu sekitar 8-12 jam.
Pengeluaran dan harga produk
Responden dengan pengeluaran sebanyak Rp 1.000.000,00 sampai Rp 2.999.999,00 memiliki kemampuan untuk membeli produk yang ditawarkan seharga Rp 250.000,00 sampai Rp 399.999,00. Hal ini terbukti dari jumlah respon terhadap harga kisaran produk tersebut sebanyak 83 orang.

Waktu penggunaan sepatu dan masalah ketika menggunakan sepatu
Waktu dan kaki sakit
Responden merasa kaki sakit ketika menggunakan sepatu diatas 4 jam. Hal ini terbukti dengan adanya responden yang menjawab sebanyak 155 orang merasakan kaki sakit.

Waktu dan sepatu bau
Setelah penggunaan sepatu diatas 4 jam maka sepatu akan menjadi bau. Hal ini terbukti dengan 244 responden menjawab demikian.

Waktu dan sepatu cepat rusak
Pada penggunaan sepatu selama 4 sampai 12 jam maka sepatu akan cepat rusak. Hal ini dapat dilihat bahwa pada rentang waktu tersebut, responden menjawab terbanyak pada pilihan ini.
Kesimpulannya, responden terbanyak memiliki keluhan pada sepatu menjadi bau ketika menggunakan sepatu di atas 4 jam. Untuk masalah kaki sakit, responden juga merasakan ketika menggunakan sepatu di atas 4 jam. Namun, untuk masalah sepatu menjadi rusak sebagian dari mereka menjawab pada rentan waktu penggunaan sepatu selama 4 sampai 12 jam.

Terdapat beberapa tantangan, hambatan, dan batasan dalam pelaksanaan penelitian kuantitatif yang dijalankan, yakni:
Dalam prakteknya, mengumpulan lebih dari 300 responden memerlukan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

Banyaknya calon responden yang menolak untuk mengisi kuesioner.
Tidak semua kuesioner yang telah diisi oleh responden merupakan kuesioner yang valid, sehingga harus menyebarkan lebih banyak kuesioner.

Terdapat beberapa pusat perbelanjaan yang tidak memperbolehkan penyebaran kuesioner, walau untuk tujuan akademis.

Kurangnya ahli dalam mengolah data dengan menggunakan program SPSS.

Jangkauan penyebaran kuesioner offline hanyalah di sekitar daerah Tangerang dan Jakarta.

3.2.3 Konsep Produk/ Layanan Hasil Penelitian KuantitatifSetelah melakukan penelitian kuantitatif didadapatkan beberapa input untuk pengembangan produk. Diantaranya terbagi menjadi aspek fisik dan non fisik. Berikut adalah penjelasannya :
Aspek Fisik
Bentuk sepatu sneakers sendiri masih mendominasi respon dari responden akan jenis sepatu yang diminati. Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa adanya respon yang menyebutkan bahwa kenyamanan itu penting dan juga mengalami permasalahan kaki sakit apabila menggunakan sepatu pada kurun waktu 4-7 jam. Kenyamanan dituangkan dalam bentuk penambahan busa pada bagian belakang sepatu.
Kekuatan juga menjadi salah satu perhatian dalam mengembangkan produk. Terbukti melalui penelitian yang dilakukan bahwa ternyata ketahanan menjadi salah satu faktor substansial dalam membeli sepatu. Miles;co mencoba menjabarkan perhatian ini dengan mengganti bahan sol sepatu dari material TPR menjadi karet. Penggantian material ini terkait dengan ketahanan sol sepatu itu sendiri. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan melakukan presser foot pada sepatu agar kekuatan sepatu menjadi kuat.

57912061277500Apabila dijabarkan kedalam ilustrasi, maka berikut adalah ilustrasi dari produk kelompok :
Gambar 3.8 Desain Konsep Produk
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
912495173545500Gambar diatas merupakan visualisasi dari fitur sepatu yang akan dibuat, akan tetapi kelompok juga telah merancang gambaran sepatu secara visual dengan lebih detil dari segi model dan juga material. Ilustrasi ini akan kemudian diuji oleh kelompok untuk penelitian lebih lanjut apabila pada prosesnya tidak sesuai dengan keadaan dan selera masyarakat. Berikut adalah visualisasi prototype yang akan dibuat :
Gambar 3.9 Visualisasi Produk
(Sumber : Dokumentasi kelompok)
Aspek Non-fisik
Dari sisi channel penjualan ternyata yang masih dominan dalam data kuantitatif adalah penjualan melalui online shop dan juga toko fisik di mall. Hasil ini akan mendorong Miles;co untuk membentuk channel dalam business model canvas sehingga hanya berjualan melalui online dan juga toko di mall. Respon responden terhadap pembelian sepatu di departemen store tidak signifikan.
Aspek non-fisik lainnya yang akan terbentuk setelah penelitian ini adalah membuat konsep pemasaran yang membawa pesan review dan testiominal. Diantara faktor-faktor lain ternyata dalam pembelian online muncul aspek non-fisik yaitu review dan testimonial. Angka tingkat ketertarikan akan aspek review dan testimonial ini akan membantu kelompok dalam mengembangkan materi-materi promosi dari Miles;co.

3.3 Temuan Penelitian Tes Alfa3.3.1 Rencana dan Metode Penelitian Tes AlfaPenelitian tes alfa merupakan salah satu teknik penelitian untuk mengetahui kinerja dari produk yang akan dibuat dan diujikan pada suatu kelompok terbatas (orang terdekat). Pendekatan yang dilakukan adalah kuantitatif. Tujuan dari dilakukannya tes alfa adalah untuk mengetahui pendapat dari orang-orang terdekat mengenai produk yang akan dijual. Dalam metode ini kelompok menggunakan survei untuk mengetahui lebih lanjut mengenai produk yang diujikan kepada mereka.
Berikut adalah penjelasan kemasan produk dan produk yang akan diuji :
Kemasan Produk
Sepatu akan dikemas dalam boks yang terbuat dari kardus per pasang. Selain itu plastik bening digunakan untuk melindungi boks dari air. Berikut adalah penampakan boks sepatu Miles;co :

Gambar 3.10 Desain Kotak Sepatu Miles;co
(Sumber : Dokumentasi kelompok)
Pada boks terdapat logo, merek, tagline, cerita singkat mengenai Miles;co, serta cara menghubungi Miles;co. Hal ini bertujuan untuk branding dari Miles;co agar produknya lebih diingat konsumen. Selain itu ada pula tulisan “Proudly made in Indonesia”—hal ini bertujuan agar menanamkan imej pada konsumen bahwa mereka dapat bangga membeli produk asli buatan Indonesia. Di sisi yang lain terdapat juga kotak yang berisi tulisan model, ukuran, dan warna untuk catatan dari pihak perusahaan agar memastikan barang yang disiapkan sesuai dengan pesanan konsumen dan tidak tertukar.

Sementara itu, pada plastik bening tercantum logo, merek, tagline, dan kontak Miles;co. Selain itu ada juga boks putih di bawah logo guna untuk menempel label yang akan diisi pihak Miles;co untuk mencatat alamat, nama konsumen, serta barang pesanan konsumen agar tidak tertukar. Plastik bening untuk kemasan produk diilustrasikan sebagai berikut:

Gambar 3.11 Desain Plastik Sepatu Miles;co
(Sumber : Dokumentasi kelompok)
Prototyping produk
Prototype produk yang dibuat terdiri dari dua bagian yang dibuat terpisah, yaitu insol dan badan sepatu. Meskipun pada produk final nantinya insol akan dibuat secara kesatuan dengan sepatunya, pada tes alfa ini insol dibuat terpisah guna untuk kemudahan dan penghematan waktu dalam riset.

Badan Sepatu
Lewat penelitian kualitatif dan kuantitatif, penulis telah menambahkan maupun mengembangkan konsep produk dari berbagai aspek. Menurut hasil penelitian, variabel yang dirasakan penting oleh konsumen ketika membeli sepatu diantaranya adalah kenyamanan dan ketahanan. Penulis telah mengformulasikan beberapa fitur untuk meningkatkan kedua variabel tersebut dalam produk.

Dalam aspek kenyamanan, prototype ditambahkan busa di bagian belakang. Hal ini bertujuan agar bagian belakang kaki tidak sakit maupun lecet ketika berjalan jauh. Selain itu, bagian depan sepatu juga dibuat lebih lebar dan tinggi sedikit agar ruang bagian depan kaki masih longgar dan nyaman setelah ditambahkan dengan insol. Untuk aspek ketahanan, sepatu ditambahkan jahitan luar yaitu presser foot agar sol tidak mudah “menganga”. Bahan sol bawah yang digunakan juga berbahan karet yang lebih tahan lama. Untuk bahan badan sepatu sendiri adalah bahan kanvas. Kanvas merupakan bahan yang paling banyak diminati oleh konsumen menurut hasil riset penulis dan sedang tren di pasar. Sementara itu, model sepatu prototype adalah sneakers sehingga cocok dengan bahan kanvas.

Insol
Insol pada prototype kelompok dibuat terpisah dari badan sepatu. Hal ini dilakukan agar menghemat waktu agar para informan dapat menguji insol pada sepatu mereka masing-masing selama seminggu. Insol menggunakan bahan yang menggunakan arang bambu sebagai bahan dasar yang dicampurkan ke kain sebagai senyawa yang mempunyai fitur anti-bau. Selain itu insol juga memiliki bantalan tambahan agar lebih empuk ketika dipijak. Fitur ini juga menambah nilai aspek kenyamanan bagi konsumen.

Berikut adalah ilustrasi (mock up) prototype produk Miles;co:

Gambar 3.12 Desain Produk
(Sumber : Dokumentasi kelompok)
Pengukuran dilakukan dengan membedah apa saja atribut yang dianggap penting dan berhubungan dengan penilitian. Atribut-atribut tersebut kemudian dijabarkan kedalam suatu pernyataan pada suatu kuesioner. Kuesioner akan dilampirkan pada bagian belakang laporan ini. Pada kuesioner tersebut dibagi menjadi 4 bagian yakni 2 bagian close-ended question untuk mengukur atribut produk yang diuji dan perbandingannya dengan kompetitor, 1 bagian pilihan mengenai strategi pemasaran, dan profil responden.

Pengukuran pernyataan untuk close-ended question tersebut dilakukan dengan menggunakan likert scale dalam kuesioner yang telah dibuat. Data dikumpulkan menggunakan 5-points Likert Scale, dimana 1 mengindikasi tidak setuju (TS); 2 mengindikasi kurang setuju (KS); 3 mengindikasi ragu-ragu (RR); 4 mengindikasi setuju (S); dan 5 mengindikasi sangat setuju (SS).
Dalam penelitian ini, kelompok memilih 20 narasumber yang berasal dari orang terdekat kelompok yang dinilai memiliki atribut yang sesuai terhadap produk yang ditawarkan. Setiap narasumber yang ditanya kemudian harus mengukur atribut-atribut yang diuji di-imbangi dengan pemberian sampel sepatu agar hasil yang didapatkan valid. Pemberian penjelasan sebelum dan pada saat mengisi juga akan dilakukan agar pengisian kuesioner yang dilakukan tidak bias. Narasumber ini nantinya akan melakukan percobaan penggunaan selama 2 minggu untuk mengetahui hasil dan kegunaan produk yang diuji. Data diri narasumber akan dilampirkan pada laporan ini.

Berikut adalah beberapa kriteria yang diperhatikan dalam pemilihan responden ini diantaranya sebagai berikut :
Responden Laki laki
Berusia 18-34 tahun
Memiliki masalah bau kaki
Menggunakan sepatu selama 4-7 jam dalam sehari
Memiliki kebiasaan menggunakan sepatu tanpa kaus kaki
Berikut adalah jadwal pelaksanaan uji produk dalam tes alfa :

Gambar 3.13 Jadwal Pelaksanaan Tes Alfa
(Sumber : Olahan Sendiri)
Dikarenakan membutuhkan waktu validasi yang cukup lama, maka jadwal pelaksanaan metode tes alfa ini juga kelompok persiapkan cukup lama. Untuk sol sepatu yang akan diuji telah kelompok sebar ke 20 responden itu pada tanggal 28 Desember 2018. Dengan memperhitungkan libur dan waktu kerja, maka kelompok menghitung waktu efektif pemakaian 2 minggu sampai tanggal 13 Januari 2017. Selanjutnya, kelompok akan melakukan wawancara dengan responden mengenai hasil uji produk pada tanggal 15 dan 16 Januari 2018 untuk mengetahui hasil yang didapatkan selama penggunaan produk kelompok. Setelah itu kelompok mempersiapkan pengolahan data dan diperkirakan akan selesai pada tanggal 22 Januari 2018.

Teknik pengumpulan data tersebut adalah purposive sampling yang termasuk dalam kategori non-probability sampling karena informan tidak dipilih secara acak melainkan dipilih sesuai dengan karakteristik yang sudah ditentukan dengan tujuan untuk mewakilkan pendapat dari target pasar produk yang sedang diteliti. Setelah itu analisa baru dilakukan. Berikut adalah langkah dari alpha test yang akan dilakukan:

Gambar 3.14 Langkah-Langkah Tes Alfa
(Sumber : Olahan Sendiri)
Berikut adalah penjelasan dari gambar diagram diatas :
Mencari Informan
Masing-masing anggota akan mencari sebanyak 4 informan sehingga jumlah informan yang akan menjadi subjek sebanyak 20 orang. Sebelumnya, kelompok akan menanyakan persetujuan mereka untuk mencari informan Miles;co. Metode yang akan kelompok gunakan adalah purposive sampling yang merupakan bagian dari non-probability sampling.

Bertemu Informan Sesuai Jadwal
Setelah menemukan calon informan, kelompok akan membuat jadwal dimana semua calon informan dapat hadir. Penelitian alpha ini kelompok lakukan dengan bertatap muka secara langsung.

Memberikan dan Menjelaskan Produk Miles;co
Pada tahap ini, kelompok memberikan bentuk nyata dari keseluruhan sepatu Miles;co kemudian kelompok akan menjelaskan fitur apa saja yang terdapat di sepatu Miles;co.

Memberikan Insol Sepatu
Kelompok akan memberikan masing-masing responden insol yang dapat mengurangi bau kaki dan informan akan mencoba untuk memakai insol tersebut selama 2 minggu.

Briefing
Sebelum berpisah, kelompok akan memberikan penjelasan singkat mengenai hal apa saja yang seharusnya diperhatikan, dalam hal ini adalah:
Bau pada kaki sebelum dan sesudah menggunakan insol
Daya tahan insol
Kenyamanan insol
Dan faktor lainnya yang mungkin timbul saat pemakaian
Mengumpulkan Kembali Informan
Setelah 2 minggu, kelompok akan bertemu lagi dengan para informan untuk melakukan tinjauan ulang.

Memberikan Sepatu Kompetitor dan Miles;co untuk Dicoba
Kelompok akan memberikan kembali bentuk fisik dari sepatu Miles;co dan juga sepatu dari kompetitor untuk informan coba selama kurang lebih 30 menit.

Membagikan Kuesioner
Setelah informan mencoba baik sepatu Miles;co dan kompetitor, kelompok akan membagikan masing-masing informan sebuah kuesioner untuk diisi.

Analisa
Kemudian kelompok akan menganalisa hasil dari kuesioner tersebut.

Penyesuaian Produk
Kelompok akan melakukan penyesuaian produk yang diperlukan berdasarkan hasil dari analisa alpha test.

Untuk metode analisa, kelompok kembali melakukan analisa deskriptif dengan menggunakan program SPSS. Hasil yang kelompok cari hanya mean atau nilai rata-rata yang diharapkan dapat mewakilkan pendapat dari responden mengenai aspek yang dibahas dalam kuesioner
3.3.2 Hasil Penelitian Tes AlfaDari hasil penelitian tes alfa didapatkan bahwa responden merespon secara positif (setuju) pada pernyataan-pernyataan di kuesioner yang telah diberikan. Pernyataan-pernyataan tersebut meliputi beberapa variabel seperti desain, kenyamanan, ketahanan, persepsi kualitas, fitur, kesesuaian ukuran, packaging, logo dan merek serta strategi pemasaran. Pada variabel strategi pemasaran terdapat beberapa pertanyaan yang meliputi platform penjualan, media iklan, dan promosi.
Profil responden yang mengisi kuesioner yang dibagikan semuanya berjenis kelamin laki-laki. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah mahasiswa, lalu karyawan, dan sisanya wirausaha. Responden kelompok berdomisili di Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Tangerang, dan Tangerang Selatan. Sedangkan dari sisi pengeluaran, sebagian besar responden memiliki pengeluaran Rp 1.000.000 – 1.999.999 per bulan. Kedua terbanyak adalah Rp 2.000.0000 – 2.999.999 per bulan, dan selebihnya adalah Rp 3.000.000 – Rp 3.999.999 per bulan.

Pada pertanyaan mengenai platform penjualan, responden sebagian besar memilih Instagram, disusul oleh official website Miles;co. Selain itu platform yang perlu diperhitungkan untuk menjadi sarana menjual produk Miles;co adalah Tokopedia, Zalora, dan Blibli. Sedangkan, pertanyaan mengenai media iklan, menurut responden media iklan yang sesuai untuk Miles;co adalah Instagram Ads dengan nilai tertinggi, kemudian endorsement Instagram dan endorsement Youtube. Sementara itu, media yang lainnya dinilai responden kurang sesuai dengan Miles;co. Pertanyaan terakhir mengenai promosi untuk sepatu anti-bau, semua responden setuju dengan diskon, lalu diikuti oleh bundling.

Untuk kolom pertanyaan mengenai perbaikan dan saran, sebagian besar responden mengosongkan pertanyaan ini. Namun ada beberapa saran yaitu jahitan sepatu yang lebih rapi, bahan bagian dalam sepatu diganti menjadi kain, menambahkan identitas Miles;co pada sepatunya, ukuran kotak sepatu yang kurang besar, variasi warna di perbanyak, dan variasi model sepatu diperbanyak.

Selain pertanyaan mengenai produk Miles;co yang akan ditawarkan, pada kuesioner tersebut juga terdapat pertanyaan mengenai perbandingan antara produk kelompok dan produk kompetitor. Kompetitor dipilih menurut kemiripan produk, fitur, serta range harga. Kompetitor Miles;co antara lain adalah:
Brygan
Footstep
Dane and Dine
Aspek yang diukur terdiri dari dua hal yaitu fitur dan kenyamanan. Kedua aspek ini dipilih karena merupakan value dari produk Miles;co. Adapun maksud dari fitur adalah atribut yang mendukung performa produk seperti teknologi yang dipakai dalam produk. Sebagai contohnya adalah presser foot, yaitu jahitan luar sol yang berfungsi untuk meningkatkan ketahanan sepatu. Sedangkan, kenyamanan adalah pola sepatu yang pas sehingga kaki dapat bergerak dan berjalan dengan nyaman, bahan sepatu yang sejuk, insol yang empuk, serta pijakan sol yang baik.
Setelah informan mencoba sepatu Miles;co dan 3 kompetitor lainnya, mereka diminta untuk membandingkan keempat sepatu dengan mengisi kuesioner. Berikut adalah hasil kuesioner mengenai persepsi informan terhadap keempat merek sepatu:
Tabel 3. 5 Data Perbandingan dengan Kompetitor
Variabel Mean Median Modus
Fitur Miles;co 4,29 4 4
Fitur Brygan 3,33 4 4
Fitur Footstep 2,95 3 3
Fitur Dane and Dine 1,95 2 2
Kenyamanan Miles;co 3,76 4 4
Kenyamanan Brygan 4,43 5 5
Kenyamanan Footstep 3,33 3 3
Kenyamanan Dane and Dine 1,81 2 2
(Sumber : Olahan Sendiri)
Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa secara fitur, Miles;co menempati peringkat ke atas dengan rata-rata nilai 4,29. Nilai tersebut cukup jauh signifikan dibandingkan kompetitor dengan nilai kedua tertinggi, yaitu Brygan, yang hanya mendapat nilai 3,33. Sedangkan, Footstep dan Dane and Dine mendapat skor yang cukup rendah. Hal ini dikarenakan fitur pengurang bau Miles;co unggul dibandingkan kompetitor lainnya yang menawarkan fitur standar seperti presser foot.

Namun apabila dilihat dari aspek kenyamanan, Miles;co menempati peringkat kedua. Peringkat pertama adalah Brygan dengan nilai rata-rata 4,43 dan median 5. Hal ini menunjukkan bahwa sepatu Brygan sangat nyaman dipakai oleh konsumen. Miles;co mendapat nilai 3,76 yang berarti Miles;co harus mengupayakan agar sepatu dapat dibuat lebih nyaman dari segi pola, bahan, dan insol.

Dari tabel di atas, maka perceptual mapping mengenai prototype Miles;co adalah sebagai berikut:

Gambar 3.15 Grafik Perceptual Mapping
(Sumber : Olahan Sendiri)
Dari gambar dapat dilihat bahwa posisi teratas ada pada Brygan untuk aspek kenyamanan. Sedangkan untuk aspek fitur, Miles;co menempati urutan teratas dengan fitur anti-bau. Peringkat ketiga adalah Footstep dan terakhir Dane and Dine.

Terdapat beberapa tantangan, hambatan, dan batasan dalam pelaksanaan penelitian tes alfa yang telah dijalankan, yakni:
Pencarian 20 responden cukup sulit dikarenakan tidak semua orang memiliki masalah bau kaki.

Pengumpulan 20 responden di 1 hari yang sama cukup sulit dikarenakan domisili dan jadwal mereka yang berbeda-beda.

Waktu yang dibutuhkan untuk pengujian produk pada tes alfa ini cukup lama dikarenakan responden harus mencoba menggunakan insol terlebih dahulu.

3.3.3 Konsep Produk/Layanan Hasil Penelitian Tes AlfaSetelah melakukan penelitian tes alfa, kelompok menemukan Dalam mengembangkan produk yang akan diteruskan kedalam penelitian tes beta, kelompok telah melakukan beberapa penyesuaian untuk produk tes beta yang akan dijual. Beberapa aspek ini dikategorikan menjadi 2 aspek yaitu aspek fisik dan non-fisik. Aspek-aspek ini muncul dari hasil penelitian tes alfa yang kelompok lakukan.

Aspek Fisik
Aspek fisik yang merupakan hasil penelitian tes alfa dan akan dikembangkan pada penelitian tes beta ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu fisik pada produk dan packaging dari produk itu sendiri. Pada aspek fisik pada produk, variasi warna merupakan salah satu temuan baru berdasarkan rekomendasi dari responden ketika melakukan uji produk tes alfa. Oleh karena itu, kelompok berencana meluncurkan 4 warna pada produk sepatu anti-bau ini yaitu warna biru tua (navy), merah maroon, abu-abu, dan hitam.

Berikut adalah gambaran produk Miles;co :

Gambar 3.16 Desain Produk Miles;co
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Komponen yang melekat pada produk akan ditambahkan identitas pada produk sehingga identitas merek juga menjadi lebih terlihat pada produk. Kurangnya pengingat pada merek menjadi salah satu kritik dan saran yang muncul pada penelitian tes alfa sebelumnya. Peletakan identitas merek akan diletakkan pada lidah daripada sepatu yang dibuat oleh Miles;co. Berikut adalah desain identitas merek yang akan ditambahkan pada bagian lidah sepatu :

Gambar 3.17 Desain Identitas Merek
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Pada aspek packaging terdapat beberapa masukan yang juga bisa dikembangkan kedepannya. Apabila dilihat dari segi ukuran, ternyata kardus yang diberikan kurang memadai untuk mengemas sepatu. Tambahan tali pada kardus yang ada juga menjadi salah satu masukan yang bisa diwujudkan agar kotak sepatu tidak hanya dapat diletakkan namun juga bisa digantung.

Selain itu, yang akan diubah adalah ukuran kotak. Dalam pengujian sebelumnya, ternyata secara gambaran desain mendapatkan respon yang positif namun pada bentuk kotak yang berikan banyak yang masih mengatakan bahwa kotak masih kurang besar. Kelompok akan mencoba mendesain ulang bentuk kardus yang pas untuk proses penelitian tes beta.
71247026733500Berikut adalah gambaran kotak sepatu Miles;co :
Gambar 3.18 Desain Kotak Sepatu Miles;co
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Aspek Non Fisik
Dari hasil penelitian tes alfa, didapatkan bahwa platform penjualan yang cocok untuk Miles;co adalah media sosial seperti Instagram dan e-commerce seperti Zalora, Blibli.com, dan Tokopedia. Selain itu,para responden mendukung adanya platform penjualan melalui official website. Oleh karena itu, pembuatan official website akan dilakukan pada penelitian tes beta untuk penjualan produk. Kelompok mencoba membuat proses pembelian produk Miles;co. Proses pembelian sendiri diawali dengan proses melihat barang hingga pemberian resi. Waktu pada saat memesan memiliki rentan waktu sekitar 5-10 menit pada kondisi yang stabil.

Berikut adalah proses pembelian Miles;co:
Melihat produk via instagram ; website
Klik link pesan
Isi format pemesanan
Mendapatkan totalan
Melakukan pembayaran
Konformasi pembayaran
Barang dikirim
Resi dikirimkan
Melihat produk via instagram ; website
Klik link pesan
Isi format pemesanan
Mendapatkan totalan
Melakukan pembayaran
Konformasi pembayaran
Barang dikirim
Resi dikirimkan

Gambar 3.19 Proses Pembelian Produk Miles;co
(Sumber : Olahan Sendiri)
Selain itu, media iklan yang akan digunakan berdasarkan hasil penelitian tes alfa adalah Instagram Ads, endorsement di Instagram serta Youtube. Bentuk promosi yang akan digunakan adalah potongan ongkos kirim, diskon, dan bundling.

3.4 Temuan Penelitian Tes Beta3.4.1 Rencana dan Metode Penelitian Tes BetaBerbeda dengan penelitian tes alfa, penelitian tes beta bertujuan untuk mencari tahu bagaimana tanggapan pasar terhadap produk yang diluncurkan. Penelitian tes beta sendiri mencakup jumlah informan yang jauh lebih banyak dan tidak semua infoman merupakan orang terdekat dari kelompok. Kelompok kembali menggunakan teknik pengumpulan data berupa purposive sampling yang merupakan bagian dari non-probability sampling karena kelompok tidak memilih konsumen sepenuhnya acak melainkan dengan menggunakan kriteria tertentu.

Penelitian beta akan berlangsung pada bulan Febuari dengan jadwal sebagai berikut:

Gambar 3.20 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tes Beta
(Sumber : Olahan Sendiri)
Metode pengumpulan data yang kelompok gunakan adalah kuesioner yang akan dilampirkan. Dalam kuesioner tersebut akan ada beberapa variabel yang diuji seperti bahan sepatu, desain, ukuran sepatu, fitur, harga produk, pelayanan, official website, dan kepuasan konsumen secara keseluruhan. Selain itu, terdapat juga pertanyaan tambahan seputar strategi pemasaran dan profil responden. Setelah itu, kuesioner tersebut akan dibagikan kepada konsumen dengan beberapa kriteria yang telah ditentukan.
Berikut adalah flowchart dari rencana penelitian tes beta yang akan dilakukan:

Gambar 3.21 Proses Penelitian Tes Beta
(Sumber : Olahan Sendiri)
Berjualan Produk melalui Instagram
Instagram menjadi pilihan kelompok untuk mulai memperkenalkan produk baru yang akan kelompok luncurkan karena selama ini konsumen serta penjualan paling besar dari Instagram, pertimbangan lainnya adalah mengenai kegiatan operasional yang selama ini masih sebagian besar melalui Instagram. Sebelum kelompok meluncurkan produk, kelompok akan memberikan gimmick terlebih dahulu dengan tujuan untuk memberikan informasi bagi konsumen mengenai produk baru kelompok beserta fiturnya dan kapan tepatnya produk kelompok akan diluncurkan.
Katalog produk akan di-upload di Instagram juga demi memudahkan konsumen dalam menentukan produk yang diminati, namun konsumen tidak dapat membeli produk langsung di Instagram, melainkan harus melalui [email protected] atau whatsapp resmi dari Miles;co.
Screening Konsumen untuk Menjadi Calon Informan
Screening konsumen yang pernah membeli sepatu Miles;co perlu dilakukan untuk mencari calon informan yang sesuai untuk tes beta. Perlu diketahui bahwa tidak ada batasan minimum atau maksimum jumlah informan dalam tes beta. Adapun kriteria dari calon informan adalah sebagai berikut:
Laki-laki
Berusia 18-34 tahun
Pernah membeli produk baru Miles;co
Mengalami masalah bau kaki
Minimal menggunakan produk Miles;co selama 1 minggu
Menetapkan Informan
Tidak semua konsumen yang telah membeli produk baru kelompok akan dijadikan informan pada penelitian tes beta, hanya beberapa konsumenlah yang akan menjadi informan dari penelitian ini. Sebisa mungkin, kelompok akan memilih konsumen yang sudah menggunakan produk kelompok minimal 1 minggu. Untuk penelitian tes beta, kelompok akan menghubungi informan via chat sesuai dengan platform apa yang dipakai oleh konsumen ketika memesan produk kelompok.

Memberikan Mock-Up Website
Sebelum kelompok memberikan kuesioner, kelompok akan memperlihatkan tampilan official website Miles;co terlebih dahulu. Perlu diketahui, tampilan website masih dapat berubah sesuai dengan masukan dari informan, pembelian juga belum difokuskan melalui website. Selain itu kelompok juga akan menguji website sebagai basis katalog produk dan informasi dari merek Miles;co. Fungsi pembayaran belum dilaksanakan dikarenakan rentan waktu yang tidak mencukupi. Pengujian akan mencakup beberapa aspek seperti fitur, tampilan, serta kemudahan dalam pengaksesan.

Membagikan Kuesioner secara Online
Kuesioner akan diberikan secara online, karena tidak semua konsumen berdomisili di daerah Jabodetabek. Dengan menggunakan kuesioner online, jangkauan informan akan menjadi lebih luas karena tidak terbatas tempat.

Pengolahan dan Analisa Hasil dari Tes Beta
Setelah kuesioner dibagikan dan periode penelitian tes beta sudah habis, kelompok akan mulai menganalisa data yang telah kelompok dapatkan dengan menggunakan program SPSS untuk mencari Mean, Median, dan Modus. Setelah itu, kelompok baru akan menarik kesimpulan dari tes beta yang telah dilakukan.

Revisi Produk
Jika terdapat hasil dari penelitian tes beta yang masih belum memuaskan mengenai produk baru ini, kelompok akan melakukan revisi kembali jika diperlukan. Revisi juga akan dilakukan terhadap tampilan website jika diperlukan.

Pada penelitian tes beta, Miles;co akan mempublikasikan mock-up website. Pada tahap ini, mock-up website ini bertujuan untuk menampilkan katalog resmi dari Miles;co. Akan tetapi untuk perkembangan dalam waktu dekat, website akan berfungsi pula sebagai platform pemesanan barang.
Tampilan Website Miles;co bernuansa hitam-putih, minimalis, dan berkesan “clean”. Hal ini sesuai dengan citra merek Miles;co yang kasual. Mock-up website Miles;co terdiri dari 5 halaman: halaman utama, halaman katalog produk, halaman tentang Miles;co, halaman FAQ, dan halaman kontak. Berikut adalah penjelasannya :
Halaman Utama (Home)
Halaman ini adalah landing page ketika pengguna membuka mock-up website Miles;co. Pada bagian header, paling kiri ditampilkan logo Miles;co. Di sebelahnya terdapat 5 pilihan halaman yang tersedia di website—home, shop, about, FAQ, dan contact. Pada pojok kanan atas terdapat logo keranjang untuk membuka keranjang belanjaan konsumen, serta tombol log in/register untuk mengakses akun pribadi pelanggan. Kedua fitur merupakan gambaran untuk pengembangan website selanjutnya dan belum sepenuhnya beroperasi.

Di bawah header terdapat logo Miles;co yang besar, hal ini untuk menjadi pusat perhatian pelanggan ketika membuka website sehingga nama Miles;co terlihat dengan jelas. Di bawah logo terdapat pula slideshow yang berisi gambar-gambar produk Miles;co serta promosi atau informasi mengenai produk. Atribut ini bertujuan untuk menarik perhatian pelanggan untuk melihat-lihat dan membeli produk. Selain itu, di gambar lainnya terdapat penjelasan singkat fitur sepatu Miles;co.

Gambar 3.22 Tampilan Slideshow
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Setelah itu, terdapat 2 ikon yaitu sepatu dan kaos. Kedua gambar ini berfungsi untuk memudahkan pelanggan secara otomatis membuka halaman berisi produk sepatu kaos Miles;co per kategori. Di bawahnya terdapat 9 kotak berisi gambar-gambar produk Miles;co. Gambar-gambar tersebut merupakan gambar 9 post terakhir dari konten Instagram Miles;co yang bertujuan untuk menarik perhatian konsumen dan men-display produk.

Pada bagian footer, terdapat ikon media sosial yang dimiliki oleh Miles;co, berfungsi untuk me-redirect pelanggan ke akun-akun tersebut apabila diklik. Footer berada pada setiap halaman website. Berikut adalah tampilan utama website kelompok :

Gambar 3.23 Tampilan Halaman Utama
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Halaman Belanja (Shop)
Karena pada penelitian tes beta website masih bersifat prototype, maka pemesanan masih dilakukan via [email protected] atau Whatsapp. Oleh sebab itu pada bagian di bawah header, terdapat tulisan mengenai 3 metode pemesanan tersebut. Di bawahnya merupakan contoh daftar produk-produk Miles;co. Pada bagian kiri terdapat fitur pemilihan produk berdasarkan kategori, mulai dari harga, warna, dan ukuran produk. Terdapat juga fitur “sort by” untuk mengurutkan produk dari nama (A-Z atau Z-A), harga (paling murah ke paling mahal atau sebaliknya), ketersediaan barang, atau dari produk yang paling baru diluncurkan.

Gambar 3.24 Tampilan Halaman Belanja
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Apabila produk diklik, maka yang muncul adalah sebagai berikut:

Gambar 3.25 Tampilan Penjelasan Produk
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Pada halaman tersebut terdapat gambar produk dari berbagai sisi dan dapat diperbesar jika kursor diarahkan ke area gambar (hover). Selain itu terdapat juga nama produk, nomor SKU, dan harga. Terdapat juga pilihan ukuran, warna, dan kuantitas yang dapat dibeli.

Halaman Tentang Miles;co (About)
Pada halaman ini dijelaskan singkat mengenai asal usul Miles;co beserta brand story dari Miles;co. Berikut adalah tampilannya :

Gambar 3.26 Tampilan Halaman Profil Miles;co
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Halaman FAQ
Pada halaman ini dimuat penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan oleh konsumen mulai dari pemesanan, pengiriman, sampai dengan kebijakan pengembalian produk apabila salah ukuran/cacat/hilang.

Gambar 3.27 Tampilan Halaman FAQ
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Halaman Kontak (Contact)
Pada halaman ini berisi kontak Miles;co yang dapat dihubungi apabila ada pertanyaan, dan juga metode pemesanan yaitu lewat LINE, Whatsapp, Instagram, Facebook, dan e-mail. Tersedia pula form pertanyaan yang ketika diklik akan dikirim langsung ke e-mail Miles;co. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pelanggan untuk menghubungi Miles;co.

Gambar 3.28 Tampilan Halaman Kontak
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Metode analisa yang digunakan adalah statistik deskriptif. Analisa akan dilakukan dengan menggunakan program SPSS, adapun yang kelompok cari adalah hasil nilai rata-rata (mean) yang dapat mewakilkan pendapat dari seluruh informan mengenai seluruh aspek yang ditanya dalam kuesioner.

3.4.2 Hasil Penelitian Tes Beta
Pada penelitian tes beta ini, secara keseluruhan responden merespon secara positif (setuju) pada pernyataan-pernyataan di kuesioner tersebut. Responden yang mengisi kuesioner sebanyak 26 orang yang berjenis kelamin laki-laki. Sebagian besar responden berprofesi sebagai mahasiswa dan karyawan, dan sisanya wirausaha (3 orang). Kebanyakan responden berdomisili di pulau Jawa, namun ada beberapa dari Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali. Pengeluaran responden terbanyak adalah Rp 2.000.000,00 sampai Rp 2.999.999,00. Profil responden ini sesuai dengan target pasar Miles;co.
Dalam kuesioner ini terdapat pernyataan maupun pertanyaan mengenai beberapa variabel seperti bahan, desain, ukuran sepatu, fitur, harga, pelayanan, kepuasan konsumen, website, repeat order, brand awareness, media penjualan, waktu pembelian, media promosi, dan promo untuk sepatu anti-bau. Responden rata-rata merespon secara positif (setuju) terhadap pernyataan-pernyataan yang ada pada kueisoner tes beta ini. Responden paling banyak mengetahui merek Miles;co dari Youtube, Instagram, dan endorsement. Sedangkan, waktu yang dibutuhkan untuk membeli sepatu secara online sekitar 15-30 menit.

Menurut responden media penjualan yang paling cocok (dari pilihan terbanyak) adalah Instagram, [email protected], official website, bazaar, marketplace, dan official store. Sedangkan, media promosi yang dianggap paling cocok menurut responden adalah endorsement Instagram, endorsement Youtube, dan Instagram Ads. Untuk promo sepatu anti-bau responden paling banyak memilih promo diskon dan cashback.

3.4.3 Konsep Produk/Layanan Hasil Penelitian Tes Beta
Setelah melakukan penelitian tes beta, kelompok telah melakukan beberapa penyesuaian untuk produk Miles;co. Beberapa aspek ini dikategorikan menjadi 2 aspek yaitu aspek fisik dan non-fisik. Aspek-aspek ini muncul dari hasil penelitian tes beta yang kelompok lakukan.

Aspek Fisik
Aspek fisik yang merupakan hasil penelitian tes beta dibagi menjadi 2 bagian yaitu fisik pada produk dan packaging dari produk itu sendiri. Pada aspek fisik pada produk, para responden merekomendasikan model sepatu untuk diperbanyak. Oleh karena itu, kelompok berencana untuk menyiapkan desain produk yang baru untuk kedepannya.
Selain itu, dari aspek kerapihan jahitan sepatu pada hasil tes beta menunjukkan bahwa responden sudah cukup puas dengan kerapihan jahitan yang sekarang karena mempertimbangkan aspek durabilitas namun masih mempertahankan nilai estetika. Komponen lainnya yang menjadi bahan koreksi setelah alfa tes adalah identitas pada produk. Setelah kelompok menambahkan woven yang bertuliskan nama Miles;co, para responden juga sudah cukup puas dengan hasilnya yang cukup menonjolkan identitas Miles;co.

Dari aspek desain dan fungsi anti-bau, rata-rata responden menjawab cukup baik. Adapun ada 1-2 responden yang menjawab ragu-ragu untuk efektivitas insol anti-bau. Setelah kelompok selidiki hal ini dikarenakan kaki mereka tidak terlalu berkeringat sehingga sedikit sulit untuk mengevaluasi efektivitas insol dalam jangka waktu 1-2 minggu. Akan tetapi selebihnya responden menjawab cukup efektif dalam mengurangi bau kaki mereka.

Pada aspek packaging terdapat beberapa masukan yang juga bisa dikembangkan setelah melakukan hasil penelitian beta. Kelompok telah memperbaiki dari aspek ukuran packaging dan penambahan tali pada kotak sepatu. Namun terdapat rekomendasi lagi dari para responden yaitu mengganti warna dasar kardus Miles;co karena warna cokelat kurang sesuai dengan warna dan imej Miles;co. Selain itu ada yang merekomendasikan untuk mengganti tulisan ‘Story of Miles&co’ menjadi bahasa Indonesia sehingga lebih mudah dimengerti oleh konsumen. Berikut adalah gambaran kotak sepatu Miles;co setelah revisi:

Gambar 3.29 Desain Kotak Sepatu Miles;co
(Sumber : Dokumentasi Kelompok)
Aspek Non Fisik
Dari hasil penelitian tes beta, Miles melakukan launching lewat Instagram dan official website. Dari aspek website,rata-rata responden sudah cukup puas dengan tampilan dan fungsinya. Namun yang dapat diperbaiki adalah banner website yang agak kecil sehingga kurang menjadi pusat perhatian ketika membuka home website. Selain itu waktu loading untuk membuka halaman katalog agak lama karena file gambar yang cukup besar, sehingga kelompok akan mengganti foto-foto dengan ukuran yang lebih kecil.

Selain itu, berdasarkan hasil penelitian tes alfa dulu, media iklan yang cocok adalah Instagram Ads, endorsement di Instagram serta Youtube. Oleh karena itu pada acara launching Miles;co menggunakan Instagram Ads terlebih dahulu. Bentuk promosi yang digunakan adalah diskon dan repson cukup baik.

x

Hi!
I'm Katy

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out